Desain Grafis Adalah Seni Bukan Sekedar Gambar dari Aplikasi

  • 2 min read
  • Feb 01, 2021
Desain Grafis

Banyak yang heran lantaran jasa desain grafis terlalu mahal, padahal desain grafis adalah ilmu yang tidak murah. Ada mahasiswa yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari desain grafis. Prosesnya juga tidak mudah dan membutuhkan ketelitian.

Desain grafis adalah keahlian di mana para profesional membuat konten visual untuk mengkomunikasikan pesan di balik gambarnya. Ilmu ini secara praktek juga masuk ke dalam ruang lingkup percetakan, media cetak, majalah, poster, pamflet, periklanan, web desain, animasi film, game, 3D, foto digital, arsitektur, desain industri, logo, packaging, dll.

Dengan menerapkan hirarki visual dan teknik tata letak halaman, desainer menggunakan tipografi dan gambar untuk membuat visual yang baik. Mereka mampu mempengaruhi orang-orang agar fokus pada area tertentu, menggunakan logika, dan menampilkan elemen dalam desain interaktif, untuk mengoptimalkan pengalaman pengguna.

Desain Grafis adalah tentang Menciptakan Pengalaman Pengguna Secara Visual

Desain grafis adalah kerajinan kuno, yang berasal dari hieroglif Mesir hingga lukisan gua berusia setidaknya 17.000 tahun. Banyak orang beranggapan bahwa desain grafis adalah ilmu visual baru, namun sesungguhnya menggambar logo juga ditemukan pada masa itu. Orang-orang pada masa lampau juga menggunakan desain grafis sederhana untuk menciptakan estetika untuk membantu pemasaran komoditas yang mereka jual. Desainer grafis menarik pemirsa menggunakan gambar, warna, dan tipografi begitu pula dengan orang-orang Mesir pada masa itu.

Saat ini desainer grafis yang bekerja dalam desain pengalaman pengguna (UX) yang menyesuaikan dengan pendekatan manusia sebagai pengguna. Seorang UX designer harus peka terhadap orang-orang pada kalangan tertentu, lalu menerapkannya pada hasil karya mereka. Estetika harus memiliki tujuan — dalam desain UX, kami tidak menciptakan seni demi seni. Jadi, desainer grafis harus bercabang menjadi desain visual. Saat mendesain untuk UX, Anda harus:

  • Pertimbangkan arsitektur informasi dari desain interaktif, untuk memastikan aksesibilitas bagi pengguna.
  • Memanfaatkan keterampilan desain grafis untuk membuat pekerjaan yang mempertimbangkan seluruh pengalaman pengguna, termasuk kemampuan pemrosesan visual pengguna.Misalnya, jika aplikasi seluler yang menyenangkan tidak dapat menawarkan kepada pengguna apa yang mereka butuhkan dalam beberapa klik jempol, perancangnya akan gagal menggabungkan desain grafis dengan pengalaman pengguna. Ruang lingkup desain grafis di UX mencakup pembuatan desain cantik yang menurut pengguna sangat menyenangkan, bermakna, dan bermanfaat.

Desain Grafis adalah Desain Emosional

Meski bekerja di era digital berarti harus mendesain dengan software interaktif, desain grafis tetap berpusat pada prinsip-prinsip kuno. Sangat penting bagi Anda untuk mencapai kesepakatan yang benar dengan pengguna dari pandangan pertama mereka — karena itu desain grafis berhubungan dengan desain emosional.

Sebagai seorang desainer grafis, Anda harus memiliki pemahaman yang kuat tentang teori warna dan betapa pentingnya pemilihan skema warna yang tepat. Pilihan warna harus mencerminkan segala elemen yang ada seperti perusahaan dan pengguna. Anda harus mendesain dengan memperhatikan bagaimana elemen cocok dengan nada (misalnya, font sans-serif untuk kegembiraan atau kebahagiaan). Anda juga perlu merancang efek keseluruhan, dan mencatat bagaimana Anda membentuk emosi pengguna saat Anda memandu mereka. Ilmu tersebut tentunya bukan hal sepele seperti yang Anda bayangkan.

Setelah desain jadi, tugas mereka tidak sepenuhnya tuntas. Mereka akan memantau dengan cermat bagaimana estetika karya mereka sesuai dengan harapan penggunanya. Setelah evaluasi itu desainer dapat mengevaluasi lalu mempertimbangkan keputusan, seperti meningkatkan kegunaan desain mereka dalam pengalaman yang mengalir dengan mengantisipasi kebutuhan dan pola pikir pengguna.