Kearab-araban, Kekorea-korean atau Kebarat-baratan

  • 2 min read
  • Jan 23, 2021
Kearab-araban

Bergaya kearab-araban itu adalah hak dan tidak bisa dilarang. Namun entah kenapa, banyak yang terganggu dengan orang yang bergaya kearab-araban dalam hal berbicara maupun berpakaian.

Apa salahnya menggunakan panggilan akhi dan ukhti. Apa salahnya menggunakan cadar.

Bukankah panggilan bahasa Inggris seperti bro, sist adalah hal yang lumrah. Dan gaya berpakaian ala barat juga tidak dipermasalahkan.

Komunitas k-poper di Indonesia juga mengalami kasus yang serupa. mereka juga menggunakan bahasa Indonesia yang ke korea korean dengan tambahan kosakata seperti oppa, eonni. Belum lagi mengenai gaya berpakaian dan gaya rambut yang juga mengikuti tren ala-ala K-Pop.

Komunitas pecinta anime Jepang di Indonesia juga mengalami peristiwa yang mirip. Bahasa mereka itu menggunakan bahasa Jepang seperti ganbatte, onii Chan, dan yang lainnya. Bahkan ada juga yang berpenampilan seperti tokoh-tokoh anime yang biasa disebut dengan cosplay.

K-pop maupun drakor digandrungi kaum milenial. Nyatanya bukan cuma Indonesia yang terkena wabah K-Pop maupun drakor. Sekarang itu zaman globalisasi. Apa-apa bisa dengan mudah dan cepat tersebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Trend k-pop dan k-drama tersebut juga diikuti dengan gaya hidup sehari-hari termasuk dalam berpakaian atau berbusana, makanan, bahasa, yang serba kekorea-korean.

Setiap orang mempunyai preferensi masing-masing. mereka bergaya korea korean bukan berarti membenci atau anti dengan budaya sendiri bukan.

Kenapa kalau budaya kita digunakan oleh bangsa lain, kita menjadi overproud. Lantas, bagaimana jika sebaliknya orang-orang kita yang menggunakan bahasa atau budaya mereka, kenapa kita jadi antipati? Tidak bisa seperti itu dong.

Bukankah kasus seperti ini sudah terjadi sejak zaman dahulu. Kalau kita tidak terpengaruh atau mengikuti budaya dari luar mungkin sekarang kita masih primitif, kita masih kita masih berpakaian terbuka.

Coba kita perhatikan suku-suku di pedalaman dengan gaya berpakaian yang masih sederhana. Bukankah jika kita tidak mau menerima apa yang dari luar kita jadi akan tertinggal seperti itu?

Dan proses seperti itu akan terus terjadi selama kita terus berhubungan dengan dunia luar kita tidak mengisolasi diri.

Kita memakai baju koko yang berasal dari Cina. Memakai gamis dari Arab atau India. Memakai jeans dari Eropa.

Lihat orang Jepang atau orang Korea. Apakah mereka memakai kimono setiap saat di zaman modern ini. Umumnya sih tidak ya, mereka hanya memakainya pada saat tertentu saja. Sama seperti di Indonesia, di Indonesia itu juga para perempuan tidak setiap hari memakai kebaya. Kalau batik sih mungkin intensitasnya sering ya.

Sekarang untuk bahasa. lagipula kalau kita sadar diri akan situasi dan kita berada pada situasi yang non formal apa salahnya toh kita menggunakan bahasa campuran. kalau urusan grammar salah kan ini cuma bahasa itu aja kan bahasa lisan aja bukan bahasa yang formal.

Bahasa-bahasa yang sudah ada di Indonesia seperti bahasa Indonesia dan bahasa daerah itu kan sebenarnya banyak dipengaruhi oleh bahasa bahasa lain. Hampir tidak ada lagi bahasa yang murni. Apalagi bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa asing dan bahasa daerah.

Bahasa Indonesia itu kan banyak serapan dari bahasa Sansekerta, bahasa Arab, bahasa Portugis, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Persia, dan lain-lain.

Kita memang perlu selektif. Sikap selektif memang diperlukan untuk menangkal dampak negatif atau hal-hal yang tidak sesuai dengan norma ketimuran atau norma agama yang dianut. namun kita tidak boleh serta merta menolak semua hal yang datang dari luar atau menilai preferensi orang lain.

Sumber: https://www.edutorial.id